Senin, 22 November 2010

Berburu Pindang Patin Khas Palembang di Rumah Makan Sri Melayu

PALEMBANG - Apabila mengunjungi kota Palembang, belum lengkap rasanya bila belum mampir ke Rumah Makan Sri Melayu. Rumah Makan ini menyajikan suasana makan yang bernuansa Melayu Sumatera Selatan. Terletak di Jalan Demang Lebar Daun No. 1 Palembang - 30163, telepon +62 (0711) 420468 (tidak jauh dari istana gubernur Sumatera Selatan, Griya Agung) adalah merupakan Rumah Makan yang selalu dikunjungi oleh para pejabat dan orang penting jika berkunjung ke kota Palembang.

Karena penasaran dengan cerita bahwa rumah makan ini adalah merupakan rumah makan yang dikunjungi oleh pejabat-pejabat elit, maka ketika mengunjungi Palembang, penulis mencoba untuk menyempatkan diri berburu kuliner di rumah makan ini.

Rumah makan ini terletak di areal yang cukup luas (kira-kira luasnya sekitar 1 hektar) dengan banyak pepohanan yang rindang. Bangunan utama rumah makan ini bergaya bangunan khas Palembang yang sebagian besar terbuat dari kayu. Di tengah-tengah rumah makan terdapat sebuah kolam ikan dengan ikan yang cukup banyak dan besar. Tempat ini cukup nyaman bagi orang yang ingin menikmati makanannya sambil mengobrol. Wajar saja jika tempat ini dijadikan bagi para pejabat dan pebisnis sebagai tempat makan sambil mendiskusikan pekerjaan. Kabarnya tempat ini dapat menampung pengunjung hingga sekitar 300 orang.


Makanan yang disajikan bergaya penyajian seperti di restoran Minang, dimana semua jenis lauk dan makanan akan dikeluarkan. Kecuali untuk menu utama dan andalan dari rumah makan ini, yaitu pindang ikan, maka pelayannya akan menanyai pengunjungnya, ingin menu pindang jenis ikan apa. Di sini tersedia pindang ikan patin dan pindang ikan bawung. Penulis bersama dengan keluarga mencoba untuk memesan pindang ikan patin dan pindang ikan bawung supaya dapat merasakan semua jenis pindangnya. Pindang ini dimasak dengan campuran daun kemangi yang dipadukan dengan aroma campuran berbagai bahan tambahan lainnya, seperti lengkuas, tomat, nanas, dan mentimun. Sebenarnya di rumah makan ini masih ada 1 jenis pindang lagi, yaitu pindang ikan salai (ikan yang diasap).

Sedangkan menu lainnya dihidangkan seluruhnya di atas meja, ada ikan seluang goreng (ikan seluang merupakan ikan khas sungai Musi berbentuk kecil-kecil dan digoreng sampai garing seperti ikan asin), cumi goreng tepung, sate ikan (jangan dibayangkan kalau bentuknya seperti sate yang kita kenal, karena sate ikan ini adalah ikan yang dihaluskan dan diberi tepung kanji kemudian dibentuk seperti seperti bola dan ditusukkan pada sebatang lidi), tempoyak (berbahan dasar durian mentah difermentasikan yang dibungkus daun pisang dan dipepes dengan cabe merah dan terasa asam), sambal goreng pete, lalapan, serta tidak ketinggalan sambal mangga yang merupakan sambal khas Sumatera.

Pindang ikan patin dan bawung disajikan dalam tempat khas sehingga masih tetap panas. Penulis sangat menikmati makanan ini, walaupun sebenarnya penulis kurang cocok dengan masakan bergaya Melayu yang cukup pedas. Namun karena rasanya yang khas agak asam dan segar, sehingga hidangan ini sangat cocok disantap ketika siang dimana cuaca di kota Palembang yang cukup panas. Namun sebenarnya masih ada satu tempat yang menyajikan patin ikan yang rasanya menurut penulis lebih enak dibandingkan tempat ini, yaitu Rumah Makan Pindang Meranjat Ibu Ucha, namun keunggulan pindang di Rumah Makan Sri Melayu ini adalah pindang yang dihidangkan senantiasa tetap hangat karena dihidangkan di tempat khusus yang terbuat dari bahan stainless steel dan di bawahnya terdapat tungku api kecil untuk menghangatkan.

Di tempat ini juga menyediakan aneka jenis minuman dingin maupun hangat seperti jus tomat, jus jambu, jus alpukat, teh manis, dan minuman kelapa muda yang segar

Penulis membayangkan bahwa Rumah Makan ini adalah merupakan rumah makan kalangan pejabat sehingga harganya tentulah sangat mahal. Tapi ternyata bayangan ini tidak terbukti. Harga makanan di tempat ini relatif masih wajar dan tidaklah sangat mahal. Harga pindang per porsinya rata-rata adalah Rp 15.000.

Menurut informasi yang berhasil penulis peroleh, rumah makan ini didirikan sejak tahun 1991 oleh Ismail Umar, dan Komariah yang konsepnya terinspirasi ketika mereka berkunjung ke Malaysia. Bahkan saat ini Rumah Makan Sri Melayu telah memiliki cabang di Jakarta yaitu di Jalan Veteran, Bintaro dan Bendung Hilir, samping Rumah Sakit Mintoharjo, Jakarta Pusat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar