Sabtu, 17 Desember 2011

Roti Unyil Oleh-oleh dari Bogor

BOGOR memiliki aneka ragam kuliner yang unik yang merupakan hasil kreasi para pengusaha kuliner di kota yang dikenal sebagai kota hujan ini. Kuliner khas Bogor ini bukan merupakan makanan tradisional warisan budaya, namun merupakan hasil ciptaan dari tangan-tangan yang kreatif. Hasilnya kuliner hasil kreasi ini justru dikenal masyarakat luas sebagai kuliner khas dari Bogor yang wajib untuk diburu.

Salah satu kuliner hasil kreasi yang saat ini sudah diidentikkan dengan kuliner khas Bogor adalah Roti Unyil. Namanya memang cukup aneh. Roti Unyil sebenarnya adalah roti manis denngan isi beraneka ragam, ada yang isinya coklat, keju, sosis, daging asap atau taburan mesis. Namun ukuran roti unyil ini kecil dan kita dapat menyantap sebuah roti hanya dalam satu suapan saja. Mungkin karena ukurannya yang mini ini, maka roti ini dinamakan roti Unyil (Unyil adalah nama tokoh boneka ciptaan Indonesia yang filmnya cukup terkenal di era tahun 1980-an). Saat ini roti Unyil sudah dikenal sebagai oleh-oleh khas Kota Bogor.

Ada beberapa lokasi toko yang menjual roti Unyil di kota Bogor. Namun saat ini toko yang menjual roti Unyil yang cukup terkenal adalah Toko Roti Unyil VENUS. Ketika berkunjung ke Kota Bogor pada hari Sabtu (17/12/2011), Penulis menyempatkan diri untuk singgah ke toko ini. Rupanya pembeli di tempat ini sangat ramai. Untuk membeli, harus berdesak-desakan dan berebut.

Toko Roti Unyil VENUS beralamat di Komp. Ruko V-Point, Jl. Pajajaran No.1 Bogor, telepon +62 0251 8364008. Roti Unyil Venus ini juga memiliki outlet di SPBU Cibubur dekat pintu keluar tol Cibubur, namun Roti Venus yang kita beli di lokasi Bogor ini adalah fresh from the oven. Penulis menilai memang roti Unyil Venus ini cukup enak. Harga sepotong roti unyil yang dijual di toko roti VENUS, Bogor ini adalah Rp 1.300.

Namun apabila Anda membeli roti unyil di outlet yang terdapat di SPBU Cibubur, harga sepotong roti unyil dijual lebih mahal, yaitu seharga Rp 1.600.

Jumat, 02 Desember 2011

Gudeg Yu Djum Kuliner Jogja Yang Dapat Dijadikan Oleh-oleh

Yogyakarta - Sebagaimana artikel sebelumnya, dalam artikel ini penulis masih mengulas tentang kuliner khas Jogja. Kuliner yang satu ini juga penulis dapatkan karena penulis menitip rekan yang mengunjungi Yogyakarta untuk minta tolong dibelikan. Kuliner yang satu ini adalah Gudeg Jogja. Gudeg adalah merupakan kuliner khas Jogja yang tidak boleh dilewatkan. Walaupun di daerah lain juga ada jenis gudeg seperti di Semarang, namun gudeg Jogja memiliki bentuk penyajian dan rasa yang berbeda. Gudeg Jogja rasanya sangat manis dan lebih kering (kurang berkuah). Gudeg adalah masakan buah nangka muda yang dimasak dengan gula merah dan bumbu lainnya.

Walaupun Gudeg Jogja saat ini sudah banyak dijual di luar kota Yogyakarta, namun cita rasanya umumnya agak berbeda dengan Gudeg yang dijual di kota Yogyakarta. Sehingga bagi orang yang tinggal di luar kota Yogyakarta, jika ingin mencicipi Gudeg asal Yogyakarta ini harus langsung datang ke kota Yogyakarta dan makan di tempatnya.

Namun minggu lalu, penulis baru mengetahui bahwa Gudeg yang dibeli di Yogyakarta ini ternyata dapat dibawa sampai ke Jakarta. Ini penulis ketahui ketika ada salah seorang rekan penulis yang dinas ke Yogyakarta dan mengatakan bahwa ia akan membeli gudeg Jogja. Iseng-iseng penulis mencoba menitipkan kepadanya untuk membelikan gudeg ini dan dibawa ke Jakarta. Ternyata hal ini dapat dilakukan. Gudeg ini dikemas dalam kendil sedemikian rupa sehingga dapat dibawa ke Jakarta.

Sampai di Jakarta, Gudeg Jogja ini masih segar sehingga penulis dapat menikmati gudeg Jogja walaupun tidak berkunjung ke kota Yogyakarta.

Gudeg Jogja yang dibeli oleh rekan penulis ini adalah Gudeg Jogja Yu Djum. Lokasinya di Jl. Wijilan No. 31 (sebelah selatan Plengkung Wijilan) Yogyakarta. Pusatnya sendiri berlokasi di Jl. Kaliurang KM 4,5 Karangasem CT III/22 Yogyakarta - 55281. Telepon +62 0274 515968 atau Telepon seluler 0856 286 6001.

Gudeg yang penulis beli ini adalah Gudeg komplit dengan harga Rp 100.000 per 1 paket yang terdiri dari satu kendil berisi gudeg, telur 6 butir, ayam setengah ekor, serta krecek (kulit sapi) yang ditempatkan dalam kotak karton. Gudeg ini dikemas sedemikian rupa sehingga dapat dibawa walaupun perjalanan dengan pesawat terbang.

Memang bagi sebagian orang yang tidak menyukai makanan yang terlalu manis, mungkin gudeg Jogja ini kurang cocok, karena gudeg Jogja yang rasanya didominasi dengan manisnya gula Jawa, terasa sangat manis. Namun rasa manis ini akan lebih enak karena dicampur dengan krecek (yang dicampur dengan tempe yang dipotong kecil-kecil) yang rasanya asin dan pedas. Penulis cukup menyukai gudeg Jogja ini.

Bakpia Oleh-oleh Khas Jogja

YOGYAKARTA adalah merupakan salah satu kota di Indonesia yang memiliki beraneka ragam jenis kuliner khas. Konon makanan di kota Yogyakarta (biasa juga disebut sebagai Jogja) memiliki harga yang relatif lebih murah dan lebih terjangkau. Namun akhir-akhir ini rata-rata harga kuliner di Jogja juga sudah mengikuti standar harga sehingga tidak semurah dulu.

Salah satu kuliner Jogja yang biasanya dijadikan sebagai oleh-oleh bagi para wisatawan yang cukup terkenal dan mudah diingat adalah Bakpia. Bakpia adalah sejenis kue yang terbuat dari kacang hijau yang dihaluskan dan dicampur dengan gula kemudian dibungkus dengan tepung lalu dipanggang. Selain di Jogja sebenarnya bakpia ini dapat juga kita temukan di daerah lain di Indonesia. Bakpia asalnya merupakan makanan dari budaya Tionghoa. Nama bakpia adalah berasal dari Bahasa Hokkian yang berasal dari kata “bak” yang berarti daging dan “pia” yang berarti kue. Memang dahulu di negara asalnya ini, bakpia adalah kue yang isinya adalah daging babi. Namun di Indonesia, bakpia isinya adalah kacang hijau.
Daerah penghasil bakpia yang terkenal di Jogja adalah di daerah Pathuk/Pathok. Bakpia dari Jogja ini biasanya terkenal sebagai “Bakpia Pathok”. Saat ini bakpia Jogja isinya tidak hanya kacang hijau saja, tapi sudah ada varian rasa lainnya yaitu coklat dan keju. Selama ini jika kita mencari oleh-oleh Bakpia, maka selalu yang dicari adalah merek “Bakpia Pathok”. Namun ternyata semua pengusaha pembuat Bakpia di daerah Pathok ini memberikan label atas produknya dengan nama Bakpia Pathok. Yang membedakannya hanyalah ada nomor di belakang label “Bakpia Pathok”, misalnya “Bakpia Pathok 75”. Ternyata ini adalah nomor alamat sang pengusaha/produsen bakpia tersebut.

Belum lama ini penulis menitipkan kepada rekan yang pergi ke Jogja untuk dicarikan oleh-oleh khas Jogja, yaitu Bakpia dan Gudeg Jogja. Oleh rekan penulis, dibelikan bakpia dengan merek “Bakpia Pojok Bu Prapti”. Penulis belum pernah merasakan Bakpia Pojok ini, ternyata rasanya cukup lezat dan enak serta tidak keras. Berbeda dengan Bakpia Pathuk yang selama ini sudah sering dicoba oleh penulis, Bakpia Pojok ini tidak keras atau kering. Sehingga ketika dimakan terasa sangat lezat.

Satu kotak Bakpia Pojok dengan isi 20 potong bakpia harganya adalah Rp 17.000. Jadi dari segi harga dibandingkan dengan rasanya menurut penulis bakpia ini sangat direkomendasikan untuk dijadikan oleh-oleh khas dari Jogja.

"Bakpia Pojok Bu Prapti" beralamat di Jl. Monumen Jogja Kembali No. 54 Karangjati, Yogyakarta. Untuk pemesanan dapat melalui nomor telepon seluler +62 0816 692799.

Minggu, 20 November 2011

Masak Sendiri Tanpa Kompor di Pepper Lunch

JAKARTA - Membaca judul artikel ini mungkin membuat sebagian Pembaca menjadi bingung, seperti apa makanan yang disajikan di lokasi kuliner yang satu ini? Selama ini kita mengenal jenis kuliner yang kita nikmati di suatu restoran dimana yang masak bukan koki dari restoran tersebut, namun kita sebagai pemesan makanan yang memasak sendiri makanan pesanannya adalah makanan yang disajikan di restoran Jepang. Sebut saja makanan jenis shabu-shabu, yakiniku, sukiyaki.

Saat ini sebuah restoran waralaba dengan sistem pemesannya harus mengolah sendiri makanan pesanannya untuk dapat dinikmati. Berbeda dengan makanan Jepang, dimana pemesannya harus mengolah makanan di atas tungku atau kompor untuk mengolah makanannya, bagi penikmat makanan di restoran ini mengolah makanannya tanpa menggunakan kompor atau tungku, melainkan di atas sebuah hot plate.

Nama restoran ini adalah Pepper Lunch. Sesuai dengan semboyan "sizzle it your way", maka bagaimana kita akan mendapatkan kelezatan dari makanan yang akan kita santap adalah tergantung dari cara kita mengolah dan meramu bumbunya. Restoran Pepper Lunch ini adalah merupakan restoran waralaba (franchise) asal Singapura, yang memiliki beberapa cabang di Jakarta, yaitu di Plaza Senayan, Plaza Indonesia, Mal Taman Anggrek, Gandaria City, Senayan City, Mal Emporium Pluit, Mall Kelapa Gading 3, Puri Indah Mall, Ciputra Mall dan Pondok Indah Mall I. Penulis mencoba kuliner yang satu ini di Mal Taman Anggrek.


Menikmati kuliner di Pepper Lunch ini, kita harus mengolah sendiri makanan yang akan kita santap. Makanan yang masih mentah atau setengah matang (kecuali untuk nasi, sudah matang). Makanan ini disajikan dalam sebuah hot plate. Untuk jenis makanan yang mengandung nasi, mentega serta beberapa ramuan bumbu telah ada di dalam nasi dan daging. Kita harus mengaduk terus nasi dan potongan daging terus menerus selagi hot plate-nya masih panas. Aduk merata hingga nasi berwarna kecoklatan serta dagingnya matang. Setelah matang barulah tambahkan saus/kecap secukupnya sesuai selera.


Menu yang penulis pesan ini adalah Salmon Pepper Rice dengan harga Rp 57.273 per porsi. Walaupun harganya cukup mahal, namun rasanya cukup lezat.

Rabu, 26 Oktober 2011

Nasi Bogana - Alternatif Kuliner untuk Traktir Makan

JAKARTA - Bagi sebagian besar orang, tanggal kelahiran (ulang tahun) selalu diingat dan dirayakan. Dan mungkin sudah menjadi kebiasaan, apabila ada seseorang yang berulang tahun, pastilah rekan-rekannya akan meminta untuk ditraktir makan sebagai bentuk dari perayaan ulang tahun. Bagi orang yang sedang berulang tahun, mentraktir rekan-rekannya sudah menjadi kebiasaan sebagai perwujudan ungkapan syukur.

Urusan traktir mentraktir mungkin bagi sebagian orang tidak menjadi masalah, dengan adanya sumber financial yang cukup, maka lokasi dan tempat untuk mentraktir ataupun jenis makanan apa yang akan dibeli tidak menjadi kendala. Asalkan ada uang, maka segalanya dapat diperoleh. Namun mungkin sebagian lain orang akan menjadi masalah yang cukup sulit karena harus menyesuaikan dengan budget yang tersedia.

Bagi Pembaca yang saat ini harus mentraktir makan rekan-rekan, namun memiliki budget dengan jumlah terbatas, dapat menjadikan kuliner yang satu ini sebagai alternatif untuk mentraktir rekan-rekan, nasi bogana Lina.

Penulis mengetahui kuliner yang satu ini ketika ada salah satu rekan penulis yang berulang tahun. Rekan penulis memesan Nasi Bogana Lina ini untuk mentraktir rekan-rekan sekantor. Nasi bogana ini dapat diantar ke tempat pemesan (khusus untuk wilayah Jakarta) dengan pesanan minimum sebanyak 20 porsi. Nasi Bogana ini tersedia dalam beberapa ukuran dan kemasan. Untuk yang dikemas dengan daun pisang, tersedia dengan ukuran kecil seharga Rp 11.000 per porsi dan ukuran besar seharga Rp 13.000 per porsi.
Paket nasi bogana yang dikemas dengan steroform dibanderol dengan harga Rp 14.000 per porsi, sedangkan untuk paket nasi bogana yang dikemas dalam kotak karton, harganya adalah Rp 20.000 per porsi. Per porsi Nasi bogana ini terdiri dari nasi gurih dengan lauk telur pindang, dendeng age, ayam kari suwir, sambal goreng ati ampla, sambal goreng tempe kacang panjang.

Penulis menilai bahwa cita rasa nasi bogana Lina lumayan lezat dengan rasa yang dominan manis sehingga sangat cocok untuk yang memiliki selera senang dengan makanan yang manis.

Selain nasi bogana Lina, di tempat ini juga disediakan jenis makanan lainnya, yaitu: Nasi bali (isinya terdiri dari Nasi gurih, telur pindang, ayam kari suwir bumbu bali, balado kering sapi, kari kacang panjang, tempe kacang kering), Nasi Langgi (isinya terdiri dari nasi gurih, terik daging sapi, ikan asin jambal, terancam kacang panjang, udang goreng, daun kemangi dan telor dadar iris), Nasi Cakalang (isinya terdiri dari nasi gurih, tongkol goreng, tomat hijau iris, cabe rawit hijau, daun melinjo), Nasi Pepes Jamur (isinya terdiri dari nasi gurih, ayam, jamur, cabe rawit hijau iris dan daun bawang), Nasi Pepes Peda (terdiri dari nasi gurih, daun melinjo, peda goreng, bawang merah bakar, cabe rawit utuh, oseng daun singkong).

Lokasi Nasi Bogana Lina ini berada di Pangkalan Simprug Golf dengan nomor telepon yang dapat dihubungi adalah +62 021-55753239 atau +62 0858 83015533.

Sabtu, 22 Oktober 2011

Bandeng Asap Sudi Mampir, Oleh-oleh Dari Surabaya

SURABAYA - Sebagaimana yang telah penulis ceritakan dalam artikel sebelumnya, dari hasil kunjungan penulis ke Kota Surabaya, penulis menjumpai satu jenis kuliner yang belum pernah penulis temukan sebelumnya, yaitu bandeng asap yang dijual di Toko oleh-oleh Sudi Mampir yang beralamat di Jalan Gubeng Besar No. 72-74 Surabaya, telepon 031 5341714.

Bandeng Asap ini berbeda dengan bandeng presto, karena duri ikannya belum lunak, sehingga perlu berhati-hati dalam memakan ikan bandeng asap ini.

Aroma asap yang khas sangat terasa ketika kita menikmati bandeng asap ini. Penulis menilai bahwa secara keseluruhan rasa dari ikan bandeng asap ini cukup lezat, mirip bandeng presto, manis, hanya saja yang membedakan adalah adanya bau asap yang khas. Namun yang disayangkan menurut penulis adalah sepertinya ada bumbu atau penyedap rasa dari bahan kimia yang menyebabkan apabila kita memakan terlalu banyak akan terasa ada sesuatu yang kurang nyaman di tenggorokan. Penulis merasa bahwa ini kemungkinan disebabkan adanya pemanis yang dicampurkan pada bandeng asap ini (mungkin menggunakan vetsin atau pemanis buatan).

Namun menurut rekan yang pernah menikmati bandeng asap, bandeng asap Ho Yoe yang dijual di Bandara Juanda, rasanya lebih enak. Lain kali apabila mampir ke Surabaya, penulis bermaksud untuk mencoba bandeng asap Ho Yoe ini.

Kamis, 06 Oktober 2011

Bandeng Asap, Oleh-oleh Dari Surabaya

SURABAYA - Jika berbicara mengenai oleh-oleh ikan bandeng, maka yang terlintas dalam bennak kita adalah bandeng presto khas Semarang. Tapi dalam kunjungan penulis kali ini kota Surabaya, ternyata di Surabaya juga ada oleh-oleh ikan bandeng, yaitu bandeng asap.

Karena penulis tidak mendapatkan referensi mengenai oleh-oleh khas yang dapat diperoleh yang unik dari Surabaya, maka penulis meminta supir taxi Blue Bird yang penulis tumpangi untuk singgah ke pusat oleh-oleh di kota Surabaya. Oleh supir taxi ini, penulis diantar ke Jalan Genteng Besar. Ternyata di jalan ini terdapat banyak toko yang menjual aneka jenis penganan yang dapat dijadikan sebagai oleh-oleh. Karena bingung, maka penulis memilih salah satu toko yaitu Toko Sudi Mampir yang beralamat di Jalan Gubeng Besar No. 72-74 Surabaya, telepon 031 5341714. Di sini penulis menemukan aneka cemilan khas Surabaya dan sekitarnya seperti keripik, emping melinjo, pia/bakpia, keripik sukun, keripik nangka dan sebagainya.

Penulis kurang tertarik dengan aneka cemilan ini, karena bagi penulis ini sudah biasa dinikmati. Justru penulis tertarik dengan kotak-kotak yang tersusun dan tertulis, bandeng presto. Penulis heran dan bertanya kepada pelayan toko, bukankah bandeng presto itu khas Semarang. Tapi pelayan toko ini menyebutkan bahwa bandeng presto ini berbeda dengan yang ada di Semarang. Bahkan di sini ada bandeng asap yang katanya cukup terkenal bagi para pencari oleh-oleh.


Penasaran dengan bandeng asap ini, penulis mencoba membelinya. Harga bandeng asap ini dibanderol sebesar Rp 85.000 per kilogram (sekitar 2 ekor). Tercium dari baunya memang cukup menggoda. Selain itu, penulis juga membeli keripik sukun, yang dihargai Rp 15.000 per bungkus (berat 250 gr).

Ternyata di bandara Juanda, penulis juga menemukan satu counter penjual bandeng asap, yaitu Ho Yoe. Namun bandeng yang dijual disini dihitung harga per ekor yang bervariasi antara Rp 70.000 sampai dengan Rp 90.000. Jika ukurannya mungkin sama dengan ukuran per ekor bandeng asap yang dijual di Toko Sudi Mampir. Jadi menurut penulis, bandeng asap yang dijual di bandara ini lebih mahal.

Foto-foto dan cerita mengenai bagaimana rasa bandeng asap ini akan penulis ceritakan dalam artikel berikutnya. Pada artikel ini penulis tidak dapat mengunggah foto-fotonya, karena penulis mem-posting artikel ini menggunakan handphone ketika sedang menunggu di ruang boarding Bandara Juanda.