Sabtu, 10 Januari 2015

Mengenal Sumbawa Barat Lebih Dekat

Perjalanan saya ke Sumbawa Barat kali ini adalah pengalaman perdana saya. Sebelumnya, saya memang pernah mengunjungi Lombok, namun tidak sampai menyeberang ke Pulau NTB & NTT. Sumbawa memang sudah tidak asing di telinga kita, namun seringkali kita terbalik-balik antara Sumba dan Sumbawa, beberapa orang bahkan tidak tahu jika keduanya merupakan pulau yang berbeda. Ya, Sumbawa terletak di Propinsi Nusa Tenggara Barat, sedangkan Sumba terletak di Nusa Tenggara Timur.



Dalam trip kali ini, saya tidak sendiri melainkan ditemani oleh beberapa teman seperti Mbak Sasha, Mbak Tika, Bang Nico dan Imad. Kami berangkat tanggal 24 Desember. 
I tell you what, berangkat pada saat Christmas Eve ini bukan ide baik kecuali kita sudah berangkat ke bandara 5-6 jam sebelumnya. Kami semua terjebak kemacetan parah selama kurang lebih 3 jam yang menyebabkan salah satu kawan saya, Ivan, terpaksa batal berangkat karena masih terjebak kemacetan di jalan. 
Saya pun nyaris saja ketinggalan jika tidak buru-buru mengganti taksi menjadi ojek dan berlari-lari sepanjang bandara ala Cinta AADC yang mengejar Rangga boarding.



DAY 1



Sampai di Lombok Praya Airport, kami langsung dijemput untuk beristirahat di Hotel Lombok Garden di Mataram. Besok paginya, kami bangun pagi-pagi sekali untuk bertolak ke Benete. Benete merupakan sebuah daerah di propinsi Nusa Tenggara Barat (Sumbawa) yang berjarak sekitar 3-4 jam dari Mataram.

Untuk mencapai Benete, saya harus menuju ke Pelabuhan Kayangan yang menghabiskan waktu  sekitar 1,5 – 2 jam perjalanan dari Mataram. Setelah sampai di Pelabuhan saya naik jetty dari pelabuhan khusus milik PT NTT. Perjalanan menggunakan speed boat/jetty ini memakan waktu 1,5 jam sampai tiba di Benete.

Sepanjang perjalanan mata saya sungguh dimanjakan oleh pemandangan alam yang menakjubkan.
Stunning nature everywhere!






Sesampainya di Benete, saya langsung diajak mencicipi hidangan setempat dari RM Luwes, salah satu restoran yang menyajikan hidangan khas setempat.



 Menunya tidak mewah, penampilan pun tidak fancy, untung saja rasanya lezat, terutama ikannya. Dagingnya tebal dan fresh dengan bumbu pedas khas lombok. Nomnom!


Setelah menikmati santap siang, perjalanan saya dilanjutkan ke Taliwang. Daerah yang terkenal akan masakan ayamnya ini ternyata merupakan salah satu kota besar di Sumbawa. Perjalanan dari Benete ke Taliwang menempuh waktu 2 jam. 



Love the breathtaking view!
Sesampainya disana, saya diajak untuk menemui langsung penduduk asli yang sedang membuat jajanan tradisional untuk dijual di pasar. Sekumpulan ibu-ibu ini beramai-ramai membuat aneka jajanan pasar yang kemudian dijual di pasar setempat. Jajanan khas Sumbawa antara lain Gali Anok, Tepung Roko, Janda Berenang, Pundut, Lepat, Gogos dan Pelopo.




Favorit saya adalah Gogos yang mirip seperti lemper namun berisi cincangan daging ayam dan telur yang kemudian dibakar di atas tungku yang menggunakan sabut kelapa agar aromanya harum. Pelopo juga tidak kalah unik. Bentuknya mirip seperti puding yang terbuat dari susu kerbau. Rasanya manis dengan tekstur lembut yang ringan. Sedikit aroma khas terjejak di mulut saat disuap. 

 


Setelah puas berbincang-bincang dengan penduduk setempat, saya melanjutkan perjalanan ke RM Sayang Anak di daerah Taliwang. 

Sop Sumsum Kerbau, porsi jumbo & sumsumnya lezat!

Setelah itu, kami pun kembali untuk beristirahat, namun rupanya di tengah perjalanan Pak Ari & Pak Yoyo yang mengantar saya selama di sana berbelok ke rumah warga di Kecamatan Seteluk. Rupanya Ayam Taliwang sudah disiapkan untuk santap malam kami. 


Ayam Taliwang di rumah Ibu Timah ini memakai ayam kampung berbalut bumbu Taliwang yang mantap. Bumbunya meresap dengan rasa pedas yang kuat. Sup sayur hangat menjadi penawar rasa pedas Ayam Taliwang Bu Timah. Puas!


Setelah itu, saya diantar menuju townsite untuk menginap. Townsite merupakan sebuah miniatur kota milik PT Newmont yang terletak tidak jauh dari kantornya. Di dalamnya terdapat berbagai fasilitas yang lengkap, mulai dari campsite sebagai tempat menginap, aneka lapangan olahraga, gym, klinik, sekolah hingga restoran sendiri. 


Why oh why saya mengunjungi mining site di tengah liburan?


Yap! Newmont memiliki bootcamp program yang terbuka untuk umum, agenda kegiatannya pun cukup unik, sekali-kali liburan sambil menambah pengetahuan tentang dunia pertambangan sepertinya menarik untuk dicoba.





DAY 2



Tempat kami menginap di townsite. Bagian dalamnya nyaman & bersih, lengkap dengan TV Kabel, Water heater dan AC


Hari kedua kami diawali dengan sarapan di Mess Hall. Menu sarapan di Mess Hall tidak seminimalis yang saya kira. Aneka menu dan variasi makanan tersedia lengkap, mulai dari roti-roti, sereal, buah-buahan, nasi, lauk pauk, mie hingga aneka jus. Rasa makanannya juga cukup enak.





Setelah sarapan, saya diajak mengunjungi site yang terletak tidak jauh dari townsite. Di area mining ini saya harus mengenakan safety helmet terlebih dulu. Saya kemudian berkeliling menggunakan mobil milik Newmont di area pertambangan. Area pertambangan milik Newmont ternyata sangat luas! 

 



Ternyata, Newmont memiliki komitmen yang cukup besar untuk menjaga lingkungan. Hal ini terbukti dari dilakukannya reklamasi (penanaman kembali) pohon-pohon selama proses penambangan berlangsung. Newmont menargetkan sekitar 20 - 30 ha lahan tambang untuk direklamasi setiap tahunnya. 



Selain reklamasi, Newmont juga membuat kolam yang digunakan untuk menampung air hujan dan air asam dari limbah untuk dimanfaatkan dalam proses pertambangan.



Semenjak Newmont beroperasi, secara tidak langsung mereka juga membantu peningkatan perekonomian warga lokal dengan mengajarkan aneka keterampilan yang dapat dilihat di bawah ini :

Perkebunan Jeruk


Coconut Net in the making



Belum lengkap rasanya bila wisata Sumbawa tidak mengunjungi Pantainya. Sumbawa Barat memiliki banyak pantai indah yang masih relatif lebih sepi dibandingkan dengan Pantai-Pantai lain di Lombok ataupun Bali. Keindahan alamnya pun dapat dinikmati di atas hamparan pasir putih dan hijau turqoise air. meskipun sore itu sedikit mendung, Pantai Maluk sukses mencuri hati saya.



Sayangnya, keesokan paginya saya harus kembali ke Mataram untuk mengejar flight ke Bali sehingga tidak bisa ikut menikmati indahnya Pantai Benete yang cocok untuk snorkeling/diving karena terumbu karangnya yang sangat indah. 


Waktu yang tinggal sedikit ini saya sempatkan untuk sedikit mengunjungi objek wisata di Mataram. Jika berkunjung ke sana, jangan lewatkan kedua tempat ini : Desa Sade tempat bermukimnya suku Sasak dan Nasi Balap Puyung, salah satu masakan tradisional khas Lombok ini. Harganya cukup terjangkau & rasa sambalnya yang mantap bikin kangen!

 
 

The famous Nasi Balap Puyung, near the LOP Airport


Perjalanan Sumbawa Barat saya selama 3 hari sungguh berkesan sekaligus menyenangkan. Mudah-mudahan kapan-kapan saya bisa kembali lagi menikmati kuliner dan keindahan alam dari Sumbawa Barat. Terima kasih Sumbawa!



PS : Foto-foto Sumbawa lainnya dapat dilihat melalui twitter (@alinechandra) dan instagram (@alinech) dengan hashtag #KSBTrip. :)






Kamis, 08 Januari 2015

Koki Joni (JOGJA)

Alamat: jl. C. Simanjuntak gang V, terban (kalo dr arah utara, setelah lampu merah mirota, nnti gak lama kemudian setelah SMA gt nnti ada gang kecil masuk situ)

Hari yang cerah dilengkapi dengan planning yang semakin menceriakan hari hehe. Aku sm temenku ke Koki Joni! Ud lama sih aku ga kesini. Pertama kali aku kesini tu beberapa tahun yang lalu ga lama setelah buka. Wah pas aku sampe, aku terheran2 rame banget ternyata sekarang! Tersedia lapangan parkir yang ckup luas lho

Kita pesen:
  1. Creamy turkey pasta (27rb): aku suka sm pasta yang pake cream gitu drpd yang pake tomato. Pas bnget disini specialty nya creamy pasta hehe. Porsinya ngenyangin lho. Chunks of turkey nya juga sering km temuin juga haha. Tp banyak juga aku dpet kulitnya. Bagi yang belum pernah makan turkey, teksturnya kalkun mirip sm ayam kampung, perlu lebih lama matengnya, tp kalo gak dimasak dgn bener pasti chewy alias alot. turkey disini sptinya sudah digrilled terlebih dahulu trus diptong2 gitu. Okelah dari segi rasa aku suka creamy pastanya.
  2. Fish and chips (31rb): nah kalo yang ini lg ngetrend dimana2 kan ya haha. Porsinya gede sih. Ikannya pake ikan dori. Dilumuri tepung panir dan digoreng. Menurutku agak overdone a little bit jadi fishnya agak kering. But still okey . Dan yang kayak mayonaise itu aku ngerasa agak sedikit rasa mustard. Nah aku suka banget. Sayangnya gak ada khasnya fish and chips yaitu cocolan saos tartar! Tp dr segi porsi mengenyangkan. Harga juga ckp bersahabat.
  3. Cordon bleu & fries (32rb): kalo yang ini adalah dada ayam yang diisi dengan keju dan smoked beef lalu di lumuri tepung panir juga buat nnti digoreng. Disajikan sm fries bs sama  mashed potato bs. Yang mmbuat enak itu adalah gravy nyaaaaa. Alias saos coklat yang membanjiri plate nya. Aku suka banget. Terasa kaldunya, pelengkap rasa banget :)
  4. Lychee sparkling tea (12rb): kalo kesini wajib pesen ini haha. Teh biasa dikasih sirup leci trus dikasih buah lychee dua yang ditusuk kayu hehe. Segeeeeeer! 

Creamy turkey pasta

Fish and chips

Lychee sparkling tea

Cordon bleu & fries








Menu disini terjangkau dan mampu buat memuaskan hasrat km makan pasta2an deh hehe. Dekat sm kota pula lokasinya. Sip deh

Habis: 40ribuan/orang

Score: 7 / 10

Selasa, 06 Januari 2015

Hujan Locale Ubud

Setelah sukses dengan Sarong dan Mama San di Bali, Will Meyrick kembali membuka restoran lainnya yang bernama Hujan Locale yang berlokasi di Ubud.
Hojan Locale menghidangkan aneka slow cooked food yang diolah dengan filosofi “found and foraged”. Hujan Locale masih ditangani oleh duo Will Meyrick bersama Palm Amatawet dengan menggunakan aneka bahan bahan lokal yang diolah menjadi hidangan berkualitas. Meskipun bertajuk fine dining restaurant, namun Hujan Locale masih menyesuaikan dengan lingkungan Ubud yang santai sehingga tidak ada formal dress code disini. Meskipun begitu, saya sarankan datanglah dengan pakaian santai yang rapi.









Hujan Locale terdiri dari dua lantai, saya duduk di lantai 2 dengan ambiance yang menyenangkan. Interiornya ditata sederhana namun tetap meninggalkan kesan elegan. Saya suka paduan antara wash out woods, kursi rotan dan beberapa pot bunga tropis yang diletakkan di atas meja. Ditambah lagi, dari lantai 2, pemandangan pura & rumah khas Bali terlihat sangat cantik, terutama menjelang terbenamnya matahari.


Complimentary Bread



Hujan Betel Leaf with Prawn and Heritage Black Pudding Ferntip Long Bean and Charred Shredded Coconut (35K/each)Non Halal






Sri Lankan Cured Scallop with Mints, Shredded Coconut, Lime Juice and Salmon Roe (90K)




Appetizer ini berisi irisan tipis scallop segar dan dihidangkan cantikd engan tambahan mint, parutan kelapa, lime juice serta telur ikan salmon. Saya suka sekali dengan hidangan ini. Rasanya segar dan light. Scallopnya chewy, irisan cabai yang ikut ditaburkan memberikan sensasi rasa pedas.



Portuguese Squid Ink Rice with Crispy Soft Shell Crab, Calamari with Gremolata Aioli (80K)




Mirip seperti risotto, hanya saja yang digunakan adalah beras biasa yang dimasak dengan tinta cumi. Surprisingly, rasa gurihnya tidak terlalu pekat dan masih ringan, apalagi ditambah perasan lemon sebelum disantap. The soft shell crab & calamari? Told ya before, I love anything crispy. Yum!



Tuna Cheviche with Roasted Chili, Edamame, Black Beans, Mint, Parsley and White Anchovies (90K)




Salad ini tampak menarik karena perpaduan bahannya yang ‘colourful’. Semakin unik saat disajikan dengan ikan asin sebagai pairingnya. Namun ternyata rasanya cukup enak. Saya suka dengan aneka bahannya yang memadukan tekstur dan rasa yang berbeda-beda. Overall rasanya asam segar yang diimbangi oleh renyahnya ikan asin. Must try!



Smoked “Mac and Cheese” with Sour Cream Fenugreek, Cumin and Chat Masala  (50K)




Mac and cheesedari Hujan Locale dihidangkan dengan twist rasa asia yang didapat dari campuran rempah-rempah seperti kelabat, jintan dan garam India. Teksturnya creamy namun tidak terlalu cheesy, sepertinya herbs yang digunakan mampu menyeimbangkan rasa keju yang kuat.



French Style Mashed Potatoes (40K)




I love this mashed potatoes!

Teksturnya super lembut dengan seasoning yang pas. Recommended.





Slow Braised Soy Beef Cheek with Wasabi Green Pea Risotto and Snow Pea Shoots (160K)




Now we’re heading to the main course!

Saya mencicipi slow cooked beef cheek yang teksturnya luar biasa empuk! Bumbu yang digunakan meresap hingga ke bagian dalam sehingga daging terasa manis gurih. Risottonya juga cukup lezat, hanya saja saya tidak merasakan hint rasa wasabi pada risottonya.





Hujan’s Spice Rubbed Seared Rib Eye Steak served with Wood Roasted Garlic, Confit Tomato and a Mint Gribiche (160K)



Potongan rib eye yang juicy ini juga tidak kalah lezat. Tekstur dagingnya cukup tender, tingkat kematangannya pun tepat. Irisan daging masih terlihat pink di bagian dalamnya. Namun sekalipun enak, menurut saya penambahan herbs pada dagingnya kurang terasa. Saya mengharapkan rasa rempah yang lebih ‘nendang’ lagi sebagaimana masakan khas dari restoran-restoran Will Meyrick yang lainnya.


Wood Oven Grilled Pork Cutlet marinated in Soy Clove Honey Butter and served with a Watermelon Pickled Radish and Ginger Mirin Vinaigrette (180K)



Jika anda mengkonsumsi pork, maka menu yang satu ini harus masuk daftar order! At least begitu yang dikatakan Hans yang mencoba grilled pork cutlet dari Hujan Locale.



Kashmiri Style Roasted Snapper wrapped in Banana Leaf with Curry Leaves, Garam Masala, Tomato and Green Chili served with Mint Yoghurt (110K)




Ini juga salah satu yang wajib coba lainnya dari Hujan Locale. Fillet kakap dilumuri bumbu ala Kashmir yang berasal dari India. Dipanggang dalam balutan daun pisang dengan berbagai macam pelengkap untuk menaikkan citarasa. Fillet ikannya sangat lembut dengan bumbu gurih pekat yang meresap. Even this stunningly delicious fish tasted better with mint yogurt sauce! Two thumbs up!


Dessert Platter




Untuk dessertnya saya mencoba dessert platter yang terdiri dari 3 hidangan sekaligus yaitu Bread Pudding, Oreo Cheesecake dan Passion Fruit Tart. Favorit saya jatuh pada bread pudding yang dipadukan dengan smoked whiskey dan maple syrup ice cream di bagian atasnya. Rasa manisnya pas, teksturnya moist dan tidak ada aroma maupun rasa yang overpowering. Love it.



Passion fruit tart juga patut diacungi jempol. Rasa asam mendominasi fillingnya yang memiliki tekstur super lembut dengan tambahan ice cream di bagian atasnya. Pie crustnya agak tebal dan terasa renyah saat dikunyah. 



Saya justru agak terkejut dengan hadirnya Oreo Cheesecake sebagai salah satu menu dessert dari restoran Will Meyrick, and sorry to say this one was not my favorite. Rasanya agak ‘nanggung’ dengan oreo yang ditaburkan di bagian atasnya saja. Please Chef, make one exotic dessert for Hujan Locale like the almighty Durian Pannacotta E&O! I'll be more than happy to try it. ;D



Overall, saya menyukai sebagian besar masakannya. Hujan Locale merupakan salah satu tempat yang harus dicoba ketika bertandang ke Ubud. Paduan antara bahan lokal dan sajian East meet West milik Chef Will Meyrick ini sangat variatif dan unik, sayang untuk dilewatkan begitu saja.



Last, I'd like to say HAPPY NEW YEAR 2015!

What a year we had! Thank you for supporting Foolosophy all of these years. Wishing everyone a joyous, happy and healthy new year. 
Let's try to be a better us and never stop dreaming!







HUJAN LOCALE

Website | Facebook | Twitter | Instagram

Jl. Sri Wedari 5Ubud, Bali 
(0361) 894 3092 

Wifi : Yes
Opening Hours:Currently : 6 PM - 11 PM 
Soon : 12 PM - 11 PM


Senin, 05 Januari 2015

Tongseng & gule ayam kampung 'PAK BEYE'

Alamat: jl. Tunjung no 12, Baciro (kalo dr arah sagan, nnti naik jembatan yang diatas rel lempuyangan, trus lurus smpe pertigaan lampu merah pertama, nnti ke kanan dan adanya dikanan jalan ya)

Selalu deh kalo makan tuh bingung. Hash maklum deh kalo tiap hr harus cari makan tu keliatannya semua opsi sudah habis ya hahaha. Untuk aja otak aku agak jalan malem itu. Tadinya tujuannya random gt ke arah baciro, and suddenly aku inget ada tempat yang rame pernah aku numpang muter mobil disana haha. Cussss!! Tp gak tau nih makanannya apa. Hajar aja ble.
Pas udah sampe sana, wah untungnya cocok sama selera temen2ku. Gule dan tongseng, uniknya adalah di pak beye ni semuanya ayam kampung :) jadi bagi yang ga suka kambing kayak temenku, masih ttp bs menikmati hihi

Kami pesan:
  1. Balungan (13rb): balungan itu istilah untuk tulang yang masih ada daging2nya dikit, sebenernya ya buat sesep sesep gitu enak deh hehe. Suka banget sm kuahnya. Pedes2 kecap gitu haha bilangnya ala rica2. Ow ya pas dimakan, ayamnya masih lumayan kok dagingnya gak hanya tulang doang ternyata :p. 
  2. Gulai (15rb): nah ini klasik bnget ya gule. Pas pertama ayamnya keliatan dikit karena ketutup kuah yang bnyak bnget. Tp ternyata pas dimakan potongannya lumayan lah. Meskipun untuk ukuran segitu ya terhitung ckup mahal. Tp nginget ini ayam kampung, ya harga tsb wajar. Ow ya ayamnya dimasak sampe empuk kok jangan khawatir bakal nemuin ayam yg alot hehe. Untuk kuahnya dilidah aku cocok, mirip sekali sm buatan dirumah. so, i quite love it
  3. Tongseng (16rb): tongsengny oke lho hehe, pas rasanya, kuah tongseng tu adalah kuah gule yang kmudian dimasak lagi dan dikasih cabe, dan bumbu2 gitu serta kecap. Jadi pastinya akan kalo kuah gulenya mantap, kuah tongsengnya enak hehe.


Tongseng

Balungannya

Gulenya 

Makanan disini ngingetin makanan dirumah :) enyak. suka juga tempatnya, ga penuh sesak dan bersih

Habis 20rbuan

Score: 8 / 10



Happy New Year 2015!

Dear KBL readers,

HAPPY NEW YEAR! 
May happiness and delicious food come to our way haha



Ini lho temen2 yang sukanya nemenin kulineran haha


My soulmates <3 (maklum aja ya abis UAS mukanya ya kusut gini)




Cheers!, 
Lala