Sabtu, 07 Juni 2008

Temu Kunci


Temu kunci (Boesenbergia pandurata) jarang digunakan sebagai bumbu dapur, karenanya bumbu ini tidak sepopuler kencur, kunyit atau jahe. Namun kehadiran temu ini memberikan sentuhan khas pada sayur bening. Tanpa temu kunci, sayur bening seperti sayur bayam akan terasa kurang mantap.

Temu kunci diperoleh dari umbi tanaman terna yang berbatang semu. Daun dan batangnya sepintas mirip daun kunyit. Temu ini tumbuh subur di tanah yang banyak mengandung humus dan sedikit ternaungi. Jika sudah berumpun banyak, umbi bisa dipanen dan anakan bisa dibiakan menjadi tanaman baru. Aroma temu kunci sangat khas dan hampir mirip dengan kencur. Biasanya digunakan sebagai bumbu sayur bening, pepes maupun campuran bumbu urapan ala Jawa. Teks & Foto: Budi Sutomo

Mengenal Daun Mangkokkan

Daunya berwarna hijau dengan urat daun terlihat jelas. Bentuk daun bulat menyerupai mangkuk, karenanya orang menyebut sebagai daun mangkokan. Selain sebagai tanaman hias, daun mangkokan (Nothopanax scutellarium) banyak dimanfafatkan sebagai bumbu dapur. Daunnya yang muda enak dimakan dan beraroma harum.

Masarakat Sumatra banyaka menggunakan daun mangkokan muda sebagai campuran gulai otak atau gulai ikan. Selain itu, daun ini juga enak diolah menjadi campuran urap, campuran pepes maupun pecel. Daun mudanya bisa dimakan mentah sebagai lalapan dengan sambal. Aromanya khas, seperti daun kenikir. Aroma daun mangkukan dapat mengurangi aroma amis pada hidangan ikan, jeroan maupun daging. Teks & Foto: Budi Sutomo

Tempe - Kaya Protein & Mencegah Anemia

Dulu orang merasa gensi dengan mengkonsumsi tempe. Padahal sumber protein nabati ini sangat kaya akan protein. Keunggulan lain, tempe mengandung antioksidan sekaligus mampu mencegah anemia.

Meskipun harga kedelai semakin melambung, olahan kedelai seperti tempe masih termasuk bahan pangan yang murah dan mudah didapat. Kini pamor tempe kian melambung, orang tidak lagi memandang bahan pangan dari fermentasi kapang Rhizopus spp. Mengingat banyak penelitian yang menunjukan banyaknya keunggulan dari tempe.

Baik Untuk Balita Hinga Manula
Tempe adalah hasil olahan kedelai dengan proses fermentasi. Selama proses fermentasi kedelai mengalami perubahan tekstur dan nilai gizi. Menurut pakar gizi, Prof . DR.Ir. Made Astawan. Proses fermentasi menjadikan tekstur kedelai menjadi lebih lunak sehingga lebih mudah di cerna. Pengolahan kedelai menjadi tempe juga menurunkan kadar stakiosa dan raffinosa, senyawa yang dapat menyebabkan kembung perut atau flatulensi.
Dibandingkan kedelai, mengkonsumsi tempe juga memiliki kelebihan. Secara kimiawi, tempe mengandung protein lebih tinggi, nitrogen terlarut meningkat, asam lemak bebas meningkat dan nilai cerna juga meningkat. Tempe lebih mudah dicerna karena kerja enzim pencernaan yang dihasilkan kapang tempe. Hasilnya, karbohidrat, protein dan lemak di dalam kedelai lebih mudah dicerna dan diserap oleh tubuh. Cocok sebagai bahan pangan sumber protein untuk balita dan anak-anak, mengingat pada usia ini, organ dan enzim pencernaan belum bekerja maksimal. Selain itu, manula juga sangat baik mengkonsumsi tempe, enzim dan organ pencernaan manula kualitasnya menurun dan tempe pangan yang baik karena mudah dicerna.

Kaya Gizi
Dilihat dari kandungan gizinya, tempe sangat potensial sebagai sumber protein nabati. Mengingat sumber protein hewani retlatif lebih mahal, alternative tempe sebagai hidangan menu keluarga bisa menjadi pilihan.
Selain protein, tempe kaya akan lemak, lemak di dalam tempe bertendensi meningkat derajat ketidakjenuhan lemaknya.menurut Prof Made Astawan, meningkatnya derajat ketidakjenuhan terhadap lemak akan meningkatkan jumlah asam lemak tidak jenuh majemuk (polyunsaturated fatty acids=PUFA). Asam lemak tidak jenuh ini dapat menurunkan kandungan kandungan kolesterol pada serum. Manfaatnya dapat menetralkan efek negative sterol dalam tubuh.
Tempe juga mengandung karbohidrat, beragam mineral dan vitamin. Dari golongan vitamin, tempe kaya akan vitamin B1, B2, B6, B12, A, D, E dan K. Khusus vitamin B12 di dalam tempe meningkat sebanyak 33 kali aktivitasnya selama proses fermentasi. Dari golongan mineral, tempe juga kaya akan zat besi, fosfor dan kalsium.

Mencegah Anemia
Vitamin B12 umumnya terdapat di dalam bahan pangan hewani, namun di dalam tempe mengandung vitamin B12 yang cukup tinggi. Kandungan vitamin B12 di dalam tempe sekitar 1.5-6.3 per 100 g tempe kering. Di dalam tubuh vitamin B12 dapat membantu pembentukan sel darah merah, karenanya mengkonsumsi tempe dapat mencegah anemia.
Kandungan kapang di dalam tempe menghasilkan enzim fitase yang dapat menguraikan asam fitat menjadi inositol dan fosfor. Terurainya asam fitat ini, mineral seperti magnesium, seng, zat besi dan kalsium lebih tersedia dan dimanfaatkan tubuh. Mineral seperti zat besi ini merupakan komponen penting dalam pembentukan sel darah merah.

Kaya Akan Antioksidan
Tidak hanya sayuran dan buah yang kaya akan antioksidan, di dalam tempe juga mengandung zat antioksidan dalam bentuk isoflavon. Isovlafon ini merupakan zat antioksidan yang dapat mencegah dan menghentikan pembentukan radikal bebas penyebab kanker.
Sepeti hasil penelitian yang dilakukan oleh Universitas North Carolina di Amerika Serikat, hasil penelitianya menunjukan bahwa phytoestrogen dan genestein yang terdapat di dalam tempe dapat mencegah kanker payudara dan kanker prostat. Radikal bebas adalah atom satu atau lebih electron yang tidak berpasangan. Atom ini sangat reaktif dan dapat menyebabkan kanker. Radikal bebas yang masuk di dalam tubuh memalui beragam cara, seperti dari makanan hingga polusi udara. Dengan adanya antioksidan di dalam tubuh maka terbentuknya radikal bebas dapat dicegah.
Selain antioksidan, tempe juga kaya akan serat. Kandungan s erat di dalam tempe sekitar 8-10 persen per 100 g. Tingginya serat terkandung di dalam tempe dapat memperlancar proses pencernaan. Serat juga dapat mencegah terbentuknya kanker kolon dan saluran cerna. Teks & Foto : Budi Sutomo.

Kandungan Gizi Tempe & Kedelai/100 g Bahan Kering

Kedelai

Protein 46.2 g
Lemak 19.1 g
Karbohidrat 28.2 g
Kalsium 254 mg
Besi 11 mg
Fosfor 781 mg
Vitamin B1 0.48 mg
Vitamin B12 0.2 mg

Tempe:
Protein 46.5 g
Lemak 19.7 g
Karbohidrat 30,2 g
Kalsium 347 mg
Besi 9 mg
Fosfor724 mg
Vitamin B1 0,28 mg
Vitamin B12 3.9 mg

Sumber: Kandungan Gizi Aneka Bahan Makanan. 2004

Sabtu, 17 Mei 2008

Hidangan Lezat Berbahan Murah

Cita rasa ikan asin memang menggugah selera, apalagi jika diolah menjadi botok. Perpaduan kelapa parut yang gurih, ikan asin yang sedap serta wanginya petai cina dan daun kemangi membuat acara makan Anda semakin lahap. Resep/Teks/Foto/food Stylist: Budi Sutomo.


Botok Ikan Asin

Bahan:

100 g ikan asin/ ikan jambal roti, potong-potong

150 g kelapa setengah tua, parut

4 sdm santan kental

50 g petai cina

Bumbu:

5 siung bawang merah, haluskan

4 siung bawang putih, haluskan

2 buah cabe merah, iris halus

6 buah cabe rawit

4 lembar daun salam, potong-potong

1 sdt gula pasir

10 lembar daun kemangi

1 sdt garam halus

Daun pisang untuk membungkus

Cara Membuat:

  1. Campur kelapa parut, dengan petai cina, potongan ikan asin, santan kental dan semua bumbu-bumbu. Aduk rata.
  2. Siapkan daun pisang, masukkan tiga sendok makan adonan botok, bungkus dengan cara di tum. Kukus hingga matang. Angkat. Atur di dalam piring saji, hidangkan hangat.
Untuk 5 Porsi

Sayur Bayam Campursari

Bahan dan bumbunya sederhana, namun penuh gizi dan tentu saja menyehatkan. Apalagi penambahan bumbu kencur dan temu kunci, menjadikan rasa sayur bening ini semakin segar dan lezat. Selamat Mencoba. Resep/Dapur Uji/Food Stylist/Foto: Budi Sutomo.

Sayur Bayam

Bahan:

200 g daun bayam, potong-potong

100 g oyong, bersihkan, potong-potong

60 g jagung putren, potong-potong

2 buah tomat, potong dadu

1400 ml air

Bumbu:

4 siung bawang merah, iris halus

3 siung bawang putih, iris halus

2 cm kencur, iris halus

1 cm temu kunci, iris halus

1 sdt gula pasir

1 sdt garam halus

Cara Membuat:

  1. Rebus air dengan semua bumbu-bumbu. Masak hingga mendidih.
  2. Masukkan oyong, jagung putren, tomat dan bayam. Masak hingga semua bahan matang. Angkat. Tuang ke dalam mangkuk saji, hidangkan hangat
Untuk 5 Porsi

Masakan Bali

Hidangan Pulai Dewata tidak hanya pelalah dan ayam betutu. Sate lilit ikan juga tidak kalah lezatnya. Lezatnya daging ikan semakin kaya rasa dengan penambahan beragam bumbu di dalam masakan ini. Resep/Dapur Uji/Food Stylist: Budi Sutomo


Sate Lilit Ikan

Bahan:

400 g daging ikan kakap/tenggiri, haluskan

60 ml santan kental

50 g kelapa parut

2 sdm minyak goreng

12 batang serai

Bumbu:

6 butir bawang merah, haluskan

4 siung bawang putih, haluskan

2 butir kemiri, haluskan

2 lembar daun jeruk, iris halus

1 cm kencur, haluskan

1 cm kunyit, haluskan

1 cm jahe, haluskan

4 buah cabe merah, haluskan

1 batang serai, iris halus

1 sdt gula pasir

½ sdt garam halus

Cara Membuat:
1.
Panaskan minyak, tumis semua bumbu hingga harum. Angkat. Dinginkan.
2.
Campur bumbu yang telah di tumis ke dalam daging ikan cinang. Masukkan kelapa parut dan santan, aduk rata.
3.
Siapkan batang serai, ambil satu sendok makan adonan ikan. Lilitkan ke batang serai. Lakukan hingga habis.
4.
Bakar di atas bara api hingga matang sambil sesekali diolesi santan kental. Angkat. Atur di dalam pinggan saji. Hidangkan hangat.

Untuk 12 tusuk


Tip: Agar penampilan sate lebih bagus. Bakar dulu sate di atas wajan datar anti lengket yang telah diolesi dengan sedikit minyak. Selanjutnya baru dibakar di atas bara api.

Manfaat Petai Cina

Petai cina ( Leucaena glauca) atau sering juga disebut lamtoro semakin susah dijumpai. Padahal bahan pangan ini memiliki cita rasa yang khas dan menambah napsu makan.

Cita rasanya mirip petai, aromanya khas dan menggugah selera makan. Biji petai cina biasanya dijadikan bahan campuran pelas, urap, botok, buntil atau pecal. Buah muda beserta kulitnya enak dimakan mentah sebagai lalapan.

Namun jangan mengkonsumsi petai cina terlalu banyak dan jangka waktu lama karena mengandung zat mimosin penyebab kerontokan rambut. Namun jangan khawatir, mimosin mudah hilang selama proses pemasakan dan perendaman. Konon petai cina juga dapat membasmi cacing kremi pada anak-anak. Teks&Foto: Budi Sutomo.